Langsung ke konten utama

Tangisi Bulan

Tangisi Bulan

Aku memuja bintang, namun menangisi bulan

mencoba tuk warnai kelam, walau sedih gemuruh sesakan dada

sendiri, tak seorang melihat betapa piluh hati bersemedih dalam lembah tak  berpenghuni

tak sadarkah kau disana

betapa luka hati ku membatin saat malam melawan mentari

tak elot di dengar

tangisan pilu segerombol serigala muda bercumbuh di bawah rumpun bambu

helasan nafas gundah sadar akan dunia tak berpihak

memecahkan riuh gaduh membuang bingar ke dalam telaga

hingga tak terlihat, hingga hilang nanar mata tak sanggup menerobos putih kabut di kalah senja

aku menagisi bulan sendirian saja, 

kenapa kau bertanya gundah diri ku ini,

kenapa kau bertanya luka saat ku sendiri

aku memang tak layak bersedu sedan

aku memang tak layak menatap bintang jernih memikat hati

aku layak sendiri

takan perna diri mu tau arti sendiri dalam jiwa yang membeku

takan perna diri mu tau akan resa rindu mengimpit hati ingin berbagi

aku tak tau arti megah bulan penuh di malam tadi

aku tak bisa artikan indah dunia memujah mujah cahaya duka

yang aku tau kesepian malam saat sendiri bersama bulan


by jhoe wain


Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Puisi Dan Riwayat Hidup Chairil Anwar

Kumpulan Puisi Dan Riwayat Hidup Chairil Anwar Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun), dijuluki sebagai " Si Binatang Jalang " (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia . Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia . Chairil lahir dan dibesarkan di Medan , sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi. Karya tulis yang diterbitkan Sampul Buku "Deru Campur Debu" Deru Campur Debu (1949) Kerikil Tajam dan Yang Te...

Surat Untuk Keysa

Surat Untuk Keysa Malam seakan memenjarakan tubuh , menutupi bumi dengan kelam, suara alam mendayu, dari bibir bibir mungil siulan alam membuai, dingin sekujur tubuh halus di dalam lipatan hangat selimut pelipur lara malam ini hujan temani mimpi, membawah berita panjang tentang penantian jenuh wajah kekasih yang mulai buram dalam dekapan syadu membeku Keysa ,- suara itu mendesah di balik bibir malam yang kian mencekam, hening untuk sesaat.... keysa , kembali tertedengar nada lembut dan berat memanggil,- Keysa terjaga dari mimpi tidurnya, di tajamkan pendengaran namun rasa ngantuk tak bisa lagi di tahan, rebah seketika dalam hangat selimut mimpi Desiran malam kini berganti pagi, hembusan angin segar pegunungan membangunkan keysa dari mimpi panjangnya, sejenak terlihat mulut keysa berucap lirih melantunkan doa, inilah rutinitas Keysa setelah terjaga dari mimpi, hemm keysa menghembuskan nafas perlahan menikmati udara pagi yang menyegarkan tubuhnya Pagi ini saya harus...

samar terang

Puisi samar terang malam sudah seperti biasa hitam menghiasi sebagian hidup kala tenggelam di setiap lorong aku menghitung langkah berharap temukan ruang terang biar ku menepi derap langkah ku teratur membuat irama berbunyi ku kenal mencoba bersiul agar tak jenuh akan kah bertemu tempat ku tujuh sudah selangkah kini di depan ku lihat samar terang tak nampak masih meredup kalah ku dekat apakah harus aku menepi..? by jhoe wain