Langsung ke konten utama

Surat Untuk Keysa

cerpen Surat Untuk Keysa, cerpen, cerpen cinta

Surat Untuk Keysa

Malam seakan memenjarakan tubuh, menutupi bumi dengan kelam, suara alam mendayu, dari bibir bibir mungil siulan alam membuai, dingin sekujur tubuh halus di dalam lipatan hangat selimut pelipur lara
malam ini hujan temani mimpi, membawah berita panjang tentang penantian jenuh wajah kekasih yang mulai buram dalam dekapan syadu membeku

Keysa,- suara itu mendesah di balik bibir malam yang kian mencekam, hening untuk sesaat....
keysa, kembali tertedengar nada lembut dan berat memanggil,-

Keysa terjaga dari mimpi tidurnya, di tajamkan pendengaran namun rasa ngantuk tak bisa lagi di tahan, rebah seketika dalam hangat selimut mimpi

Desiran malam kini berganti pagi, hembusan angin segar pegunungan membangunkan keysa dari mimpi panjangnya, sejenak terlihat mulut keysa berucap lirih melantunkan doa, inilah rutinitas Keysa setelah terjaga dari mimpi, hemm keysa menghembuskan nafas perlahan menikmati udara pagi yang menyegarkan tubuhnya

Pagi ini saya harus ke kampus jam tujuh, ucap keysa, dia pun hendak beranjak dari tempat tidurnya, namun seketika dia terdiam, matanya memandang selembar kertas kosong di tepat di bawah kakinya, kertas apaan ini, ucap keysa, kembali teringat bisikan semalam, bisikan yang selalu memanggil dirinya beberapa hari ini, huff mungkin cuma hayalan ku saja ucap keysa dalam hati

Keysapun bangkit dari tempat tidurnya dan melanjutkan aktifitas seperti biasanya, biasalah anak kosan, cuma cuci muka kalau lagi kepepet terus ke kampus dech...

Tepat jam tujuh keysa sampai ke di kampus, gadis manis berambut pirang ini tak perna telat dalam urusan kuliah, walaupun untuk mata kuliah yang satu ini, sangat mengesalkan untuk dirinya
keysa adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas bandung, dia ngambil jurusan sastra inggris, walaupun dia sendiri bingung dengan jurusan yang dia ambil, mata kuliah hali ini ILMU ALAM DASAR, mata kuliah tambahan yang harus dia lalui di semester empat, huff dosennya da tua dan sangat tidak jelas ucapannya, begitulah ungkap keysa kepada temannya iten, iten cuma tersenyum sembari menjawab, bilang aja key kalau lu ngk ngerti, hahhaaa, tawa keysa terdengar merdu dan terlihat menawan, barisan gigih putih yang rapih dan dagu yang jenjang membuat wajah keysa terlihat cantik dan menawan, memukau hati setiap lelaki,...

Namun entalah sampai saat ini keysa masih belum memiliki seorang pacar, gimana bisa punya pacar, teman cowok aja ngk punya, setiap lelaki mendekatinya pasti langsung di jauhi keysa, tak taulah entah apa alasannya

Seperti biasanya setelah beres kuliah kesya pun bersama teman semata wayangnya Iten menuju ke kosan Keysa, Iten guman keysa, aku merasa aneh akhir akhir ini, beberapa malam ini aku sering mendengar ada yang manggil nama ku, ucap keysa, kini giliran iten yang tertawa ( mang kapan ya keysa tertawa, bukannya da dari tadii ,- huff ) hahahaa itu artinya kamu harus cepat cepat punya pacar, jawab iten 

Iten aku serius ucap keysa, suara itu suara cwok apa cwek..? tanya iten, sepertinya cwok, tuuu kannnn hahahhahaa kembali meledak tawa iten, kamu benar - benar harus punya cwok

Keysa cuma bisa tersenyum saja mendengar kicauan temannya itu, dan mereka pun hanyut dalam pembahasan - pembasan yang tiap hari mereka bahas dan tak perna habis - habisnya mau tau apa yang mereka bahas, film Korea.....gkgkgkkkk


Malam ini kembali keysa tidur sendirian, ( memang sich tiap hari tidur sendirian, walau kadang kadang di temani iten ), seperti hari hari kemarin setelah membereskan tugas kampus keysa lalu masuk ke dalam selimut, tampa membereskan lagi buku yang berceceran di lantai


baru saja hendak memejamkan mata, kembali keysa mendengar namanya di panggil kali ini lebih dekat dan lebih jelas
keysa,... keysa 
seketika mata keysa terbuka lebar ( maklum kan belum tidur ) matanya mencari cari di setiap ujung kamarnya, namun tak di temukankan sumber suara itu, hanya desiran lembut angin yang menyapu wajahnya, muka keysa berubah pucat, matanya tertuju pada sebuah lembaran kusam dengan tulisan tintah merah
keysa pun bangun dan menuju lembaran tersebut, tangan nya terasa kaku dan dingin, kini sekujur tubuhnya gemetar, di bacanya tulisan itu


sayang

kadang rindu ini membuat ku hidup

mencoba memahami hati namun ku beku

aku kesepian di saat bulan datang melabuhkan cinta

rindu ku tak terbalas karna jazat merapuh kaku

tak ingin mengganggu, namun rasa ini kian melumat jiwa

aku datang bersama cinta walau tak pantas untuk ku miliki

namun aku hanya ingin menghibur jiwa

maafkan aku

your love ronaldtwain


Wajah keysa semakin memucat, dia pun berteriak sekencang mungkin, lalu jatuh pingsan tak sadarkan diri, ronaldtwain nama itu yang sekian lama ingin keysa lupakan, namun tak bisa untuk di lupakan, nama yang selalu hadir dalam doanya, ronaltwain wafat dalam tabrakan maut di sebuah balapan liar, cinta ini membekukan diri ku di sudut kota ini......


Bersambung..............

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Puisi Dan Riwayat Hidup Chairil Anwar

Kumpulan Puisi Dan Riwayat Hidup Chairil Anwar Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun), dijuluki sebagai " Si Binatang Jalang " (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia . Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia . Chairil lahir dan dibesarkan di Medan , sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi. Karya tulis yang diterbitkan Sampul Buku "Deru Campur Debu" Deru Campur Debu (1949) Kerikil Tajam dan Yang Te...

samar terang

Puisi samar terang malam sudah seperti biasa hitam menghiasi sebagian hidup kala tenggelam di setiap lorong aku menghitung langkah berharap temukan ruang terang biar ku menepi derap langkah ku teratur membuat irama berbunyi ku kenal mencoba bersiul agar tak jenuh akan kah bertemu tempat ku tujuh sudah selangkah kini di depan ku lihat samar terang tak nampak masih meredup kalah ku dekat apakah harus aku menepi..? by jhoe wain